Pengembangan Desa Panurangan sebagai Desa Wisata di Mengwi, Badung 2021-2024
DOI:
https://doi.org/10.71417/jpc.v2i2.169Keywords:
desa wisata; Desa Penarungan; eksplanasi historis; pariwisata berbasis masyarakat; BadungAbstract
Penelitian ini mengkaji proses historis pengembangan Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, menjadi desa wisata pada rentang tahun 2021–2024. Tiga pertanyaan penelitian diajukan: (1) mengapa Desa Penarungan berkembang menjadi desa wisata dan potensi apa yang dimilikinya; (2) bagaimana strategi serta tantangan pengembangannya; dan (3) apa implikasinya bagi masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode sejarah yang mencakup heuristik, kritik intern dan ekstern, interpretasi, serta historiografi, ditopang analisis data model Miles dan Huberman. Data primer dihimpun melalui wawancara mendalam dengan Perbekel, Ketua Pokdarwis, pengelola Taman Beji Paluh dan Taman Anyar, observasi non-partisipan pada objek wisata, serta dokumen resmi berupa SK Perbekel No. 54 Tahun 2017, SK Perbekel No. 47 Tahun 2018, dan Peraturan Bupati Badung tentang penetapan kawasan desa wisata tahun 2021. Kerangka analisis yang digunakan adalah teori eksplanasi historis (historical explanation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Desa Penarungan merupakan akumulasi rantai kausal sejak 2017–2018, yaitu gerakan lingkungan komunitas Gadgad Organik, pembentukan Pokdarwis, serta hibah penataan kawasan senilai empat belas miliar rupiah yang menghasilkan restorasi Pancoran Solas Taman Beji Paluh dan jalur jogging track persawahan sepanjang 1,6 km. Setelah penetapan formal tahun 2021, kunjungan wisatawan tumbuh dari 6.110 orang (2022) menjadi 8.507 orang (2023) dan 9.383 orang (2024), disertai pergeseran struktur pasar: proporsi wisatawan domestik turun dari 70% menjadi 49%, sementara pasar Jepang naik menjadi 13% (2023) dan 12% (2024). Rata-rata lama menginap berfluktuasi dari 4,4 hari (2022) ke 2 hari (2023) dan kembali naik menjadi 3,7 hari (2024). Implikasi yang terjadi bersifat asimetris: signifikan pada dimensi sosial-budaya melalui pemberdayaan perempuan, generasi muda, dan lansia, namun belum masif secara ekonomi makro karena desa masih berstatus desa wisata berkembang dan kepengurusan aktif menyusut hingga lima orang.
Downloads
References
Abdi, I. N., Adiandari, A. M., Sumerta, I. K., & Dewi, N. M. A. C. (2024). Pengembangan desa wisata berbasis green tourism di Desa Wisata Bakas, Banjarangkan, Klungkung. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 6(2), 101–105.
Anom, I. P., Suryasih, I. A., Nugroho, S., & Mahagangga, I. G. A. O. (2017). Turismemorfosis: Tahapan selama seratus tahun perkembangan dan prediksi pariwisata Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 7(2), 59–80. https://doi.org/10.24843/jkb.2017.v07.i02.p04
Ardhana, I. K. (2023). Pengantar ilmu sejarah: Pemikiran, metodologi, dan penerapan teori kritis dalam historiografi. Denpasar: Pustaka Larasan.
Atkinson, P., & Hammersley, M. (1994). Ethnography and participant observation. Qualitative Research, 1(1), 1–15.
Bloch, M. (1953). The historian’s craft (P. Putnam, Trans.). New York: Vintage Books.
Dewantara, M. H. (2023). The power of sensory dining: Analisis pengaruh estetika lingkungan alam dan lanskap hutan bambu terhadap kepuasan wisatawan kuliner di Kabupaten Badung. Jurnal Kajian Bali, 13(1), 45–59.
Dewantara, M. H., & Utama, P. (2023). Therapeutic landscape dan nilai restoratif lingkungan alam pada destinasi wellness tourism di Bali. Jurnal Ilmiah Hospitaliti dan Pariwisata, 14(1), 88–97.
Dewi, M. H. U., Fandeli, C., & Baiquni, M. (2013). Pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat lokal di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Jurnal Kawistara, 3(2), 129–139.
Eka, N. P., & Sudiana, P. (2017). Model strategi pengembangan desa wisata berbasis masyarakat di Desa Kenderan, Gianyar, Bali. Jurnal Analisis Pariwisata, 17(1), 41–45.
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. (2020). Pedoman penyusunan skripsi FIB Unud 2020. Denpasar: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Gamal, S. (2004). Dasar-dasar pariwisata. Yogyakarta: Andi.
Goca, I. G. P. A. W., Adiandari, A. M., Sumerta, I. K., & Dewi, N. M. A. C. (2024). Pendekatan lingkungan dan keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan destinasi wisata di Desa Taman Bali Bangli. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 6(2), 137–142.
Herdiana, D. (2019). Peran masyarakat dalam pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA), 6(1), 63–86.
Keputusan Perbekel Desa Penarungan Nomor 54 Tahun 2017 tentang Pembentukan Kelompok Sadar Wisata Desa Penarungan.
Keputusan Perbekel Desa Penarungan Nomor 47 Tahun 2018 tentang Pembentukan Pengelolaan Desa Wisata.
Kusuma, W. G. (2022). Implementasi Attention Restoration Theory (ART) dalam aktivitas yoga dan meditasi berbasis alam. Bali Tourism Journal, 6(2), 112–120.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1992). Analisis data kualitatif: Buku sumber tentang metode-metode baru (T. R. Rohidi, Trans.). Jakarta: UI Press.
Paturusi, S. A. (2001). Perencanaan tata ruang kawasan pariwisata. Denpasar: Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Pemerintah Desa Penarungan. (2024). Profil Desa Penarungan. Badung: Pemerintah Desa Penarungan.
Pitana, I G., & Diarta, I K. S. (2022). Gastronomy tourism: Transformasi kuliner tradisional menjadi produk kebudayaan dalam sektor pariwisata berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Pariwisata dan Bisnis, 10(2), 112–126.
Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Jakarta: Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Jakarta: Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. https://www.kemendagri.go.id/
Rosalina, P. D., Wardika, I W., & Bestari, N. M. P. (2024). Indonesian Tourism Village Award: Impact, strategy, and potential for integrated rural tourism in Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 14(2), 423–448. https://doi.org/10.24843/JKB.2024.v14.i02.p06
Sudibya, B. (2018). Wisata desa dan desa wisata. Jurnal Bali Membangun Bali, 1(1), 22–26. https://doi.org/10.51172/jbmb.v1i1.8
Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Thalia, A., & Nugroho, S. (2019). Strategi pengembangan Desa Sayan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, sebagai desa wisata berbasis wisata alam Bija. Jurnal Destinasi Pariwisata, 7(2), 364–373.
Utama, P. (2024). Pengembangan UMKM berbasis kuliner lokal dalam ekosistem desa wisata: Strategi meminimalkan leakage ekonomi pedesaan. Bali Tourism Journal, 8(2), 88–101.
Wesnawa, I G. A. (2022). Pengembangan pariwisata perdesaan Bali: Integrasi potensi, kearifan lokal dan ekonomi kreatif. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 11(1), 149–160. https://doi.org/10.23887/jish.v11i1.44184
White, H. (1973). The burden of history. History and Theory, 12(1), 5–20.
Widari, D. A. D. S. (2015). Perkembangan Desa Wisata Jatiluwih setelah UNESCO menetapkan subaknya sebagai bagian dari warisan budaya dunia. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA), 2(1), 61–78. https://doi.org/10.24843/jumpa.2015.v02.i01.p04
Widari, N. L. P. S. (2024). Manajemen daya tarik wisata berbasis sacred-heritage di Kabupaten Badung. Jurnal Kajian Bali, 12(3), 401–415.
Widyastuty, A. A. S. A., & Dwiarta, I M. B. (2021). Perencanaan dan pengembangan desa wisata Kaba-Kaba berbasis kearifan lokal. Jurnal Kawistara, 11(1), 87–101.
Wirawan, P. E., & Rosalina, P. D. (2024). Enhancing cultural heritage tourism through a spiritual knowledge: The implementation of Tri Hita Karana in Taro Village Gianyar Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 14(1), 215–233. https://doi.org/10.24843/JKB.2024.v14.i01.p10
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Anak Agung Ayu Sarah Devina, Ida Ayu Wirasmini Sidemen, Anak Agung Ayu Dewi Girindrawardani (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












